Pejabat: Puluhan orang hidup di laut setelah kapal feri Indonesia terbalik
3 min read
PARPARE, Indonesia – Sebuah tim penyelamat yang dipimpin oleh seorang penyintas dikirim ke perairan Indonesia yang penuh badai pada hari Selasa untuk mencari puluhan orang yang diyakini masih hidup setelah sebuah kapal feri terbalik dengan lebih dari 250 orang di dalamnya, kata para pejabat.
Korban selamat, yang ditarik dari air oleh nelayan pada Selasa pagi, mengatakan kepada pihak berwenang bahwa 40 orang lainnya melarikan diri dari kapal sebelum tenggelam dalam topan dan masih berada di laut, kata Sutriani, seorang pejabat pelabuhan di Majene, Sulawesi.
Patroli udara dan laut dilanjutkan saat matahari terbit, dua hari setelah Teratai Prima berbobot 700 ton menghilang dengan sedikitnya 250 penumpang dan 17 awak di dalamnya.
Sejauh ini, sedikitnya 34 orang, termasuk kapten kapal, telah diselamatkan dan satu jenazah ditemukan. Harapan memudar bahwa orang lain akan diselamatkan karena cuaca buruk yang disebabkan oleh Topan Charlotte.
Klik di sini untuk menonton video upaya penyelamatan yang dramatis.
Namun regu pencari dikerahkan di perahu polisi dengan korban selamat dan nelayan bertindak sebagai pemandu, kata Sutriani. Merupakan kebiasaan di Indonesia hanya menggunakan satu nama.
Sekelompok sekitar 40 orang berpegangan pada platform terapung yang digunakan oleh para nelayan, kata Letkol Zakarya, seorang koordinator penyelamatan di Majene, mengacu pada laporan yang diberikan oleh para nelayan.
“Kita harus segera menyelamatkan mereka,” katanya. “Kami membawa para nelayan untuk menunjukkan jalannya.”
Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal mengatakan sebelumnya pada hari Selasa bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui mengapa kapten kapal tampaknya mengabaikan peringatan untuk tidak melakukan perjalanan ke Selat Makassar.
Pemerintah akan memberikan kompensasi kepada keluarga sebesar $2.400, atau sekitar dua kali gaji tahunan rata-rata di Indonesia yang miskin, untuk setiap korban kecelakaan.
Sebagian besar dari mereka yang diselamatkan sejauh ini telah dijemput oleh kapal penangkap ikan dan kapal kargo dan dibawa ke pelabuhan terdekat dalam beberapa jam setelah tenggelamnya kapal tersebut. Mereka bercerita tentang lautan yang bergulung-gulung dan ombak yang tak henti-hentinya sebelum kapal feri tiba-tiba tenggelam dalam kegelapan.
Baco, seorang penumpang, tertidur lelap di dek bawah kapal ketika air laut masuk dan dalam hitungan detik menyapu sekitar 20 anak-anak sambil menyaksikan tanpa daya.
“Mereka tersedot begitu saja,” katanya sambil terisak mengingat bagaimana perahu tiba-tiba terbalik menjelang fajar pada hari Minggu.
Baco, ayah lima anak yang naik feri ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan di sebuah perusahaan minyak, menggambarkan kengerian yang tiba-tiba terjadi saat kejadian tersebut.
“Banyak warga yang masih tertidur saat air mencapai dek kedua tepat di atas ruang mesin,” kata Baco (40).
“Sekitar 20 anak terbawa ke laut. Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya sambil menggambarkan jeritan orang yang tenggelam.
Dengan berpegangan pada sepotong busa plastik, Baco mengapung selama lima jam sebelum bergabung dengan pria lain di sekoci penyelamat. Mereka kemudian dijemput oleh nelayan.
Teratai Prima, yang menyiarkan bahwa mereka mengalami masalah sebelum fajar pada hari Minggu, terbalik sekitar 30 mil di lepas pantai Sulawesi barat. Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan ke Samarinda di Kalimantan bagian Indonesia.
Perahu merupakan alat transportasi penting di Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau. Penegakan peraturan keselamatan yang buruk dan kepadatan yang berlebihan menyebabkan kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa setiap tahunnya.
Pada bulan Desember 2006, sebuah kapal feri Indonesia yang penuh sesak pecah dan tenggelam di Laut Jawa saat terjadi badai dahsyat, menewaskan lebih dari 400 orang.